Sahabat-sahabat Marty

Ketika marty berumur tiga tahun, ia pulang-pergi dari tempat kerja bersamaku selama setahun penuh, menuju ke tempat penitipan anak milik perusahaan dan pulang lagi ke mobil jemputan rekan-rekanku. Ia menjadi sangat lengket denganku.

Ketika marty berumur empat tahun, aku dan ibunya menyewa pengasuh di tempat tinggal kami yang memiliki taman dan jalan melingkar—hari-hari yang panjang bersama Bu Olson yang pendiam dan lembut.

Bersama Bu Olson, Marty menciptakan dua sahabat khayalannya, Shawn dan Kawn. Ia mengatakan kepada kami, Shawn dan Kawn adalah adalah anak-anak gelandangan dan ia telah memutuskan untuk mengadopsi mereka.

Anak-anak kecil itu selalu berada disamping marty—tertawa-tawa, bercanda, berbisik-bisik. Marty memberi mereka masing-masing sebuah tempat di meja, tidur berdua di tempat tidur tingkat atas, dan tempat duduk do mobil. Kalimat-kalimat mereka singkat, yang diterjemahan oleh marty, akan membuat kami semua terbahak-bahak. Tentunya, Shawn dan Kawn itu tidak tampak. Hanya marty yang bisa melihat mereka.

Kakak marty yang berumur tujuh tahun, Jimmy, akan membelalakkan matanya seraya menerima Shawn dan Kawn dan semua tempat rahasia mereka sambil mengeleng-gelengkan kepala, dan mengangkat bahu. Kadang-kadang tentu saja, mereka itu menjadi kambing hitam bagi kecelakaan Jimmy sendiri.

Marty hamper berumur lima tahun ketika aku dan ibunya berpisah. Tak lama kemudian kami bercerai. Setelah suatu pecan bersama di apartemen perkotaanku yang kecil, aku berkemas untuk mengantakannya pulang ke rumah ibunya. Sambil masuk dan mengangkat satu bawaan lagi, aku mengdengar marty menangis dikamar mandi. Aku membuka pintu. Marty duduk di lemari kecil, bibir bawahnya menuh dengan kesedihan.

Aku cemas jangan-jangan ia ingin pindah ke tempat tinggal. Ia memandang ke arahku dan berkata, “Ayah, aku akan merindukan Shawn dan Kawn.” Kemudian ia memandang kea rah bak mandi, yang penuh dengan air sabun dan mainan-mainan yang mengapung.

“Tetapi mereka ada dimobil bersama Jimmy,” kataku, “siap untuk pergi bersamamu.”

Perlahan-lahan marty menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menghirup nafas. “Tidak ayah. Mereka ada di bak mandi. Kami sudah banyak bicara akhir pekan ini. Shawn dan Kawn memutuskan akan tinggal bersama ayah mulai sekarang. Kami tak ingin Ayah kesepian.

Belakang, di malam itu aku berjalan-jalan di taman, diikuti oelh Shawn dan Kawn di belakang. Sulit menahan air mata, setelah mengetahui bahwa hal paling menyenangkan yang pernah kurasakan dalam waktu lama adalah hadiah berupa sahabat-sahabat anakku yang berumur empat tahun.

James M. Jertson
From Chicken Soup for The Singles Soul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s